Succes History is My Father

Sang Ayah berjuang untuk Hidup’

Abdul Kahar Muzakkar  lahir di LanipaKabupaten Luwu24 Maret 1921 – meninggal 3 Februari 1965 pada umur 43 tahun; nama kecilnya Ladomeng) adalah seorang figur karismatik dan legendaris dari tanah Luwu, yang merupakan pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi. Ia adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terakhir berpangkat Letnan Kolonel atau Overstepada masa ituIah tidak menyetujui kebijaksanaan pemerintahan presiden Soekarno pada masanya, sehingga balik menentang pemerintah pusat dengan mengangkat senjata. Ia dinyatakan pemerintah pusat sebagai pembangkan dan pemberontak. Pada awal tahun 1950-an ia memimpin para bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia) kemudian bergabung dengan Darul Islam (DI), hingga di kemudian hari dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara (http://id.wikipedia.org). Pada  saat itu terjadi peperangan gerilyawan yang sangat luar biasa sekali dimana presiden soekarno memita TNI atau tentara Indonesia untuk mengahabis oleh para pembrontak Makassar.  Setelah terjadinya pertemputran Abdul Kahar Muzakkar atau nama panggilan Muzakkar meminta pasukan yang masih hidup untuk mencari pasukan tambahan kepada masyarakat Bone. Disinilah terjadi pemaksaan gerilyawan kepada masyarakat Bone. Paksaan demi paksaanpun terjadi. Mendengar berita itu ayah saya bersama keluarga merancanakan untuk melarikan diri karna takut diminta jadi pasukan gerilyawan. Ditengan malam diwaktu bulan purnama ayah saya bersama keluarga melarikan diri menggunakan perahu kecil. Setelah beberapa kemudian. Tibahnya di Makassar ayah saya langsung melanjutkan kapal penisih dengan tujuan pulau Sumatra. Kapal penisi tersebut yang memiliki ciri khas dari Makassar. Tampa mesin hanya menggunakan  bentang layar dibantu tiupan angina. Untuk menuju ke Sumatra butuh waktu 30 hari pagi, siang, malam, hujan dan panas  perlu jiwa kesabaran daya juang yang tinggi  untuk tiba disana.

            Tibanya di Pulau Sumatra hal yang dilakukan ayah saya bagaimana cara bisa bertahah hidup di kampung orang  dengan kondisi hutan yang masih rimbun, masih banyak binatang buas yang masih berkeliaran serta  jumlah masyarakat masih sedikit, kata ayah saya “ tidak ada pilihan, seandainya kalau ada tempat nyaman saya kan pindah dari tempat seperti ini. “ lanjut berkataan saya utnk memulai sesuatu perlu rintangan dan perjuangan begitu besar untuk bertahahn hidup”. disinilah keluarga saya harus memulai dari awal “membuat, membangun, masa akan datang. Berjalannya dengan waktu ayah saya memulai awal hidupnya dengan bercocok tanam dengan cara menebang hutan,  “pergi pagi pulang malam”  inilah yang dilakukan ayah saya selama 3 tahun selogan ayah saya” dek eloka mapisau, kalau degage pegakana” artinya tidak mau berhentu sebelum meraihnya”. Beriring dengan detik menuju menit berganti jam berubah menjadi satu jam berlanjut menjadi hari, minggu, bulan sampai dengan tahun, setalah itu ayah saya melanjutkan dengan bercocok tanam seperti sayuran,  buah-buahan. Dari hasil sinilah keluarga saya bisa bertahan hidup, walaupun dengan seadanya.

 Beberapa tahun kemudian sedikit demi sedikit keluarga saya  membuka lahan tanah besar-besaran dengan tujuan nantinya akan ditanam pohon kelapa. Ia tapi butuh bertahun-tahun untuk melukan hal seperti itu, karna melihat peralatan masih seadanya. Pada suatu ketika ayah saya beristirahat di bawah pohon sambil istirahat merasakan hembusan angina sambil terduduk santai. Sedikit terlintas dalam pikiran sang ayah dengan tetesan  keringat berjatuhan ditanah seperti hujan gerimis,  ayah saya berkata “Jika saya menanam pohon dari sekarang di akhir kelak suatu saat anak-anak saya akan merasakan jeri payah saya” kata-kata ini di tujukan kepada anaknya masih kecil belum sekolah pada saat itu saya juga belum lahir.  Walupun pada saat itu saya tidak ada, Saya yakin kata-kata ini terlahir dari  perjuangan seorang ayah untuk masa depan anak-anaknya diakhir kelak. Karna ayah saya hanya sebentar merasakn banku sekolah ‘kata ayah saya: “pada suatu saat ketika anak-anakku udah dewasa tidak harus merasakan lagi kondisi seperti ini cukup hanya saya’ “kata ayah saya”. salama proses perjalan ini begitu banyak rintangan yang harus dihadapi misalnya saat pergi kekebun ketemu harimau, ular. inilah hidup sesungguhnya  dalam proses meraih kesuksesan tidak pernah mengoyahkan kaki untuk mundur.

Beberapa tahun kemudian Ayah yang sangat tegar dengan profesinya seorang tani kurang lebih hampir 20 tahun. Satu persatu anaknya  masuk sekolah ada yang di SMA, SMP, dan SD. Pada saat itu belum banyak penghasilan lebih tapi hanya bisa cukup untuk biaya makan sehari-hari dan biaya sekolah. Pada suatu hari abang kandung saya yang paling tua mau melanjutkan  kuliah. Sempat binggung giman mencari biaya. Hasil kebun kelapa belum terlalu banyak akhirnya. Akhirnya apa mau dikata akhirnya abang saya harus kembali lagi kekebun untuk mengumpulkan biaya kuliah, disinilah abang saya melihat kesungguhan niat kuliah yang sanggat tinggi. Selama 1 tahun abang saya selalu ikut kemanapun ayah saya pergi. Dan tidak lama kemudian ada panggilan dari keluarga dari Makassar untuk menyuruh kuliah di Makassar dan abang saya tidak berpikir panjang langsung berangkat, karna uang tabungannya udah ada. Dari sinilah saya merasakan betapah semangat juang abang saya untuk melanjutkan kuliah, dan mulai pada saat itu saya menanam kan hati saya untuk bisa seperti abang saya untuk melanjutkan kuliah, kalau meliaht masa lalu tidak bisa dibayangkan, karna  begitu banyak tetesan keringat berjatuhan ketika berkerja”. Tapi tetesan itu mampu menggubah kondisi hidup yang lebih baik lagi ,  kalau dipikir jadi lucu juga, karna mengigat dulu merasakan panasnya trik matahari menghayungkan tangan sambil berkipas mengunakan topi dengan berbahan bamboo, sekarang berubah menjadi dingin dengan kipasan  uang sendiri, “tidak ada rasa kesombangan semua itu” tapi itu yang rasakan sekarang.

Sungguh terharu melihat masa lalu, tetapi itu lah hasil dari jeri payah untuk melakukan perubahan. Disinilah akhir dari prodisasi, merasakan dari hasil jeri payah dulu dulu menanam sekarang memetik. Banyak terjadi perubahan dari keluarga saya. karna satu persatu saudara kandung saya pindah tempat ketempat yang lebih baik lagi. Rasa semangat ingin merubah profesi menjadi lebih baik lagi. Dulunya setiap pagi untuk menuju kekebun harus membawa parang, sekarang berubah ketika mau berangkat kuliah membawa buku dan pulpen dan canggihnya zaman sekarang cukup membawa Lepi/Leptop semua materi pelajaran bisa tersimpan dalam suatu bentuk.    

Genap berumur 50 tahun ayah saya. Disetiap langkah demi langkah membayangkan bagai mana aku bisa kesana? “Kata ayah saya. Tetapi sebuah impian, sebuah niat yang baik itu, tidak ada yang mustahil ‘jika kita melaksankan suatu pekerjaan dengan sungguh  suatu usaha pasti akhir nya, karna tuhan itu “tidak buta”. Akhirnya ayah saya berangkat untuk menunaikan panggilan oleh Allah SWT yaitu ketana suci. Impian ayah sayapun tercapai.

Saya tergerak dari penasaran

saya anak ke-4 dari 5 bersaudara. Saya disering dikatakan anak tengah. Dimasa kecil saya terkenal sangat superior yaitu : bandel, tidak mau dengan kata orang tua, selalu dimarahin, sering dipukul karna bermain sampai malam,  ia wajar tidak ada hari tampa ocehan dari ibu saya. “ya itulah saya waktu kecil”, ia masa kecil emang sih masa bermain paling menyenangkan. Tapi dimasa ini tidak ada terlalu di banggakan buat saya,  hanya ada omelan yang saya dapatkan, pada suatu  waktu kecil,  ayah saya sering mengajak kekebun  untuk menemaninya, kegiatan satu ini senang sekalia, karna di hutan saya bisa bermain seperti di dalam filem main tarzan- tarzanan. Saya menghabiskan waktu saya sebelum saya masuk sekolah SD.

 Hal yang  menarik masa SMP pada duduk di kelas 1 yaitu: melihat teman-teman punya mobil-mobilan, saya kepingin juga memiliki seperti tapi, karna keluarga bukan orang yang mampu untuk membeli seperti itu. Keinginan saya tetap harus memiliki mobil mainan itu. Saya temui ibu saya untuk membelikannya. Ibu saya berkata dari mana kita ingin membelinya. Tidak lama kemudian menatap wajah saya sambil tersenyum “akhirnya ibu saya berkata kalau kamu ingin membeli mobil itu “kamu harus membantu ibu kekebun” dan saya melanjutkan pembicaraan itu, “butuh berapa bulan saya mendapat mobil tersebut”?? 3 bulan nak karna kita harus menanam pisang dulu,  setelah itu buahnya baru  dijual“Kata Ibu saya”. Disinilah saya termenung untuk membeli barang kesukaanku saya harus mencarinya dulu”.  Tapi saya tidak pernah putus asah demi mendapatkan yang aku inginkan. Berawal dari sini saya udah terdorong untuk mencari uang sendiri demi barang yang aku inginkan. Berawal dari sinilah, apa yang saya inginkan berusaha terus untuk mengumpulkan uang. Setiap liburan sekolah saya harus kekebun untuk membantu ayah, apa bila buahkelapa panen saya harus membantu ayah saya, kemudian uangnya saya pakai untuk peralatan sekolah dan sisanya saya tabung, harapannya ketika saya sekolah saya harus punya kendaraan sendiri, karna jika masuk SMA saya harus berjalan  kaki samapai 3 KM dari rumah menuju kesekolah. Inilah yang terlintas dalam pikiran saya udah harus memikirkan kedepannya.

Masa sangat yang sangat rentang yaitu dimasa SMA. Dimasa tersebut banyak orang mengalami krsis identitas. Dimasa ini juga  disebut juga gejelok yaitu kegaluan. Bagi masa ini tidak terpenting bagi saya, karna apa yang saya inginkn dan bermafaat bagi saya  untuk masa depan saya. Kembali lagi dimasa SMA pada awalnya orang mengenal saya orang yang pendiam, tidak banyak berbicara, apa yang saya  lakukan tampa harus berbicara dulu, itulah saya pada SMA.

Setiap hari menuju kesekolah saya harus berjalan kaki, kebetulan sekolah SMA satu-satunya dikampung saya dan letaknya jauh dari kota, saya akui SMA saya tidak terlalu bagus, tidak begitu banyak ruang kelas  dan pasilitas juga terbatas misalnya ruang Leb tidak ada ruang computer, ditambah lagi mau masuk sekolah harus ada kelas pagi dan siang dengan alasan siswa terlalu banyak dan ruang kelas hanya terbatas. Itulah kondisi sekolah SMA saya yang  serba kekukarangan.

Pada suatu ketika, ketika saya berangkat kesekolah pada hari senin dan jumat saya harus datang dua kali, kalau senin paginya harus upacara kalau jumat ada pengajian di masjid sekolah dan siang saya harus masuk sekolah. Itu lah yang saya lakukan setiap harinya. Ada suatu kejadian saya masih ingat sekali ibu saya pernah memarahi saya “ sampai-sampai dia bilang kamu pindah rumah aja, karna kalau berangkat siang  jam 9 malam baru nympa. Dan sayapun berkata “saya harus mampir dirumah teman gerjakan tugas kelompok kadang kalau kecapean jalan kaki saya harus mampir dirumah teman tidur dirumahnya inilah kegiatan saya selama satu tahun”. Pada suatu ketika ibu saya selalu memarahin saya setiap hari, pada saat libur sekolah saya udah membantu ayah dikebun, saya tidak harus diam saya harus punya selusi dan saya terpikirkan saya harus mempunyai motor sendir gimana pun carannya harus tetap memndapatkannya, walaupun saya harus banting tulang untuk menabung beli motor.

Pengalaman saya waktu yang menarik juga pada kelas 1 SMA, kebetulan saya punya teman orang padang,  ketika bulan puasa  saya diajak untuk jualan barang dagagan bapaknya dan sayapun menerima tawaran itu. Emang tidak terlalu banyak yang saya dapatkan sekurangnya celana dan baju saya tidak harus membelinya lagi untuk saya pakai pada saat lebaran. Dan pada tahun berikutnya juga bulan puasa juga saya disuruh menjalankan usaha teman tapi asalnya dari jambi. Setiap hari saya harus mempersiapkan barang saya jual sebelum jam 4 sore saya harus meminta ibu saya membuatkan bekal untuk berbuka puasa. Karna temapt yang saya akan jualan seberang kampung jadi saya harus menyuruh ibu saya untuk memasakannya selain itu juga biar aga irit yang saya jual pasti kebutuhan untuk hari raya seperti: kerudung, baju kokoh, parpum dan kopiah. Inilah hari-hari saya kalau mengisi hari libur. Sungguh membanggakan bagi saya, karna apa yang saya inginkan dari hasil keringat sendiri, tanpa harus meminta dari orang tua. “ sejeleknya yang saya miliki, tapi hasil jeri payah sendiri.

Sedikit cerita lucu dari sekolah saya, saya masih ingat itu. Ketika saya ingin masuk ke IPA biasanya disekolah lain yang terkenal dan sekolah favorite, jika mau masuk IPA harus dites dulu pertama dilihat dari raportnya apakah pernah pernah peringkat 10 besar didalam kelasnya dan kemudian harus di tes inteligensi dan juga harus di tes minta juga kira-kira siswa tersebut pantas apa tidak masuk kejurusan IPA. “ inilah proses yang sering dilkukan di SMA pada umumunya. Tapi beda dengan sekolah saya yang ingin masuk ke IPA adalah awalnya prestasi dalam itupun hanya formalitas juga, paling ditanya sama guru apa motivasi kamu ingin masuk IPA? “hanya itu pertanyaanya. Tidak ada tes yang lain untuk melihat kemampuan seseorang hanya berdasarkan niat saja. Suatu ketika sekolah saya direnopasi jadi banyak tumpukan-tumpukan barang-barang seperti papan, kayu, dan seng. Pada saat itu saya lewat diruang kepala sekolah dan wali kelas saya memanggil saya, amier bisa gobrol bentar, ia ibu “kata saya”. Kemudian ibu saya bertkata, kamu mau masuk IPA tapi kamu harus menolong ibu, dan saya menjawab saya mau sekali ibu, “ saya minta kamu menggangkat barang-barang yang didepas sekolah dan kamu juga bisa ajak temanmu juga apa lagi yang mau masuk IPA kamu bisa ajak juga.” Kata wali kelas saya”. Tampa pikir panjang saya langsung mau. Akhirnya saya memanggil teman-teman saya untuk menggankat barang tersebut. Disinilah keunikan di SMA saya, ingin ke-IPA tidah harus dilihat dari mata pelajaran. “itulah SMA yang serba kekurangan,tapi saya tetap bangga, karna masih bisa sekolah.

Berada di kelas 3 adalah dimana sebagai penentu masa depan saya untuk melanjutkan pendidiikan berikutnya,  jujur selama kelas 1 dan 2 SMA saya tidak pernah serius untuk belajar dan saya lebih banyak menghabiskan untuk bermain dan berjulan. Tapi ketika di kelas 3 saya udah mulai fokus dengan belajar. Tapi saya punya niat atau cita-cita saya harus menjadi seorang angkatan laut dengan alasan banyak duit dan bisa keliling dunia selain itu saya tidak mau yang namanya kuliah atau menjadi mahasiswa. pada suatu ketika kebetulan saya memiliki abang kandung anak ke-2 yang juga barengan lulus sekolah, tapi saya bingung apa yang saya harus lakukan tidak mungkin kedua-duan bersamaan untuk melanjutkan kuliah dari mana uangnya. Akhirnya setelah saya megobrol dengan ibu saya. Saya berkata” biar saya aja mengalah dengan abang saya, walaupun bapak saya tidak mendukung karna dengan alasan abangku sangat bandel dan dikenal seorang preman mana munkin nita mau kuliah. Terus saya berkata dengan ibu saya”: kalua dia tidak kuliah pasti dia tambah pereman lagi karna tidak ada kativitas positif dan juga kalau dia kuliah barang kali ada sedikit perubahan pada dia” kata saya. Dan ibu saya menjawab oke kalau itu menjadi keputusanmu. Setelah penerimaan kelulusan abang saya langsung berangkat ke Makassar. Dan saya akhirnya harus megalah demi abang saya, ia walaupun niatuntuk melanjutkan cita-cita saya sangat tinggi. Dan juga harus kembali lagi kekebun untuk membantu orang tua saya.

Selama 1 tahun saya menggangur dan membantu orang tua saya, banyak pergorbanan yang saya alami yaitu ketika saya bekerja dan menirama hasil jeri payah, “dan ibu saya berkata”: sebagian hasil kerjamu kamu kirimkan dulu untuk abang dan kaka kebetulan pada saat itu 2 abang saya dan kaka saya masih kuliah jadi mau gag mau saya harus membantunya pada hal uang yang saya tabung itu adalah untuk saya kuliah nanti. Sambil termenung melihat kondisi seperti ini”. Dan ibu saya berkata suatu saat ketika kamu kuliah kamu akan seperti  itu juga, giliran abangmu akan membantumu. Saya menjawab lagi. Ia ibu  sambil tersenyum”.

 Pada suatu hari ketika saya duduk diatas jembatan tepat pada siang hari setelah pulang kerja, saya membayangkan sambil memandang langit dan panjangnya sungai”. Harus berapa lama lagi saya disini? Terus kapan aku bisa seperti teman-teman saya, padahal dia udah menikmati giman rasa kuliah itu. “sambil tersenyum melihat ikan-ikan di parit”. Dari saya merefleksi diri kalau seperti ini terus saya pasti menuruskan seperti bapak saya tidak ada henti pagi dan siang sampai sore berkerja, ya walaupun kerja yang paling hallal adalah petani tidak mengenal memakan uang orang. Jujur sebenarnya saya tidak kuat lagi harus seperti ini karna saya harus bekerja,  mengikuti kata orang tua yang udah terbiasa berkerja keras sampai-sampai  ketika setelah makan siang saya harus melanjutkan perkerjaan seolah-olah tidak ada istirah sampai keringat saya kering. “tapi saya tidak pernah geluh dengan semua itu.

Kuliah Di depan Mata

Pada suatu ketika  saya diberitahukan kepada teman saya untuk mengikuti tes akedemik pelayaran di Makassar pada bulan April. Setelah mendengar cerita ini saya merasa senang senang sekali, karena saatnya saya harus melakukan perubahan pada diri saya. Dan juga ayah saya mendengar berita tersebut senang sekali. Walaupun akhirny saya harus kekebun lagi, tapi saya berharap inilah yang terakhir kalinya. Kebetulan saya ada tawaran kerja sama paman saya untuk memanen buah kelapanya. Dan setelah saya piker saya terima tawarin tersebut karna buahnya sangat banyak dan uangnya juga pasti banyak dan akhirnya saya mengajak 1 orang teman lagi. Saya udah mempredisikan untuk memanennya butuh satu bulan pas dengan setelah memanen saya saya langsung berangkat.

            Inilah perkerjaan yang paling lama saya rasakan karna biasanya satu minggu udah selesai tapi tidak apa-apa karna ini terakhir dan saya harus butuh uang banyak sekurang-kurang saya bisa tes kemana-mana. Saya masih ingat dengan teman saya kalau sekali masak hampir 2 Kg dan terkadang itu juga kurang dan harus masak lagi, karna melihat melihat kerja kita benar-benar membutuhkan energi yang sangat banyak dan menguras fisik.   Setiap jam 4 subuh saya harus bangun mempersipkan serapan pagi dan bekal kerja semua itu rutin saya lakukan. Saya berkerja sempat terjadi kebosanan dan sempat pingin marah karna sangkin capeknya. Karna kerja seperti ini tidak pernah mengenal panas, hujan tetap berkerja. Suatu ketika saat saya berkerja tampa disadari kelapa dari pohon  jatuh menimpa kepala saya dan saya langsun pingsang untuk saja teman saya melihatnya akhirnya saya digotong kerumah dan saya harus beristirahat 1 hari untuk tidak berkerja. Selama hampir satu bulan saya berkerja tiba saatnya saya menerima uang hasil kerja keras saya itu tandanya saya siap berangkat untuk kuliah. Menunggu 2 hari kajian saya, paman saya dari Yogyakarta menawarkan  saya untuk melanjutkan S1 di Jogja aja karna disana terkenal kota pelajar dan biaya hidup juga lebih, tapi saya tidak langsung memutuskan untuk kejogja dan saya harus mempertimbangkan dulu sampai gajian saya cairwalaupun teman saya kulaih dasan banyak tapi itu bukan alasan berti saya harus ikut dengan teman dan bisa  kumpul lagi, karna ketika saya melangkah  harus memiliki tujuan yang jelas untuk menentukan masa depan saya.

Penundaan 1 minggu

Pada suatu hari menjelang 1 hari mau berangkat semua persipan seperti kelengakapn persyartan dan barang-barnag bawaan siap berangkat. Di pagi hari adik saya perempuan kelas 1 SMS mendadak sakit perut dan kahirnya saya membawa kerumah sakit setelah tibanya disana saya ketemu dokter untuk mendiagnosakan adik saya sakit apa. Dan dokter itu serahkan kepada rumah sakit kemudain saya duduk diruang tunggu. Beberapa menit kemudian dokter minta kesaya orang tua kamu dimana? Saya menjawab ada dirumah dok, terus saya bertanya kembali kedokter “ada apa dengan adik saya dok…?? Terus dok menjawab adik kamu harus segera di operasi karna adik mu mengalami usus buntu dan segara di rujuk kerumah sakit, sambil mengelengkan kepala dokter pasti bohongkan karna adik saya sebelumnya baik-baik aja mana munkin langsung parah seperti itu” kata saya”. Dokter menjawab saya minta tolong orang tuamu datang secepatnya biar segera diproses. Dan saya tidak piker panjang langsung menelpon orang tua saya untuk datang kerumah sakit. setelah tibanya Bapak dan IBu saya ketemu dengan dokter, ada apa dok dengan anak saya? dokter menjawab anak ibu “usus buntu dan segera opresasi sekarang. Ibu saya sambil kaget menutu mulutnya. Mendegar kata jawaban dokter itu. Bapak saya tidak percaya, saya yakin dokter pasti salah diagnose kata Bapak saya. Dan dokter menjawab saya tidak mungkin salah pak. Kemudia dokter menjawab saya berikan waktu untuk memikirkan semua itu dan jangan terlalu lama karna anak bapak harus di rujuk segera.  Kemudian Bapak saya tidak mungkin harus berangkat sekarang mana kendaraan laut jam segini apa lagi butuh 4 jam kesana terkecuali itu harus dicatar dan ayah saya berkata saya yakin anak saya tidak terjadi apa-apa kalau ia pun mau dioperasi harus besok pagi. Kemudian keluarga saya berembuk lagi dengan dokter itu, saya bgomong dengan dok pak tidak bisa besok berangkatnya? Dok dengan tegas menjawab saya tidak menjamin anak untuk selamat kalau besok berangkatnya, akhirnya ibu saya bilang tidak apa-apa demi anak saya rela berapa pun biayanya untuk kesana terpentung anak saya selamat.

            Tidak lama kemudian setelah magrib adik saya dibawak dengan ambulance menuju kepelabuhan dan bapak saya harus mencari speed bot untuk mencatar ke Batam. Dan yang berankat kesana adalah Bapak dan Ibu saya ditambah 2 perawat dari rumah sakit untuk menjaga adik saya. Setelah tiba disana adik saya langsung masuk keruang Intalasi diberi penanganan khusus. Dan keluarga saya sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa. Beberapa jam kemudian dokter menyakan anak ibu tidak terjadi apa-apa apa lagi sampai harus di opersai. Mendengar ucapan itu Ayah saya langsung tersenyum tapi disisi lain Ayah saya mera kemarahan begitu besar karna salah mendiagnosa kepada adik saya. Tidak lama kemudiaa saya ditelpon adikmu tidak  ada apa-apa hanya sakit biasa. Wah saya langsung bilang ke Ayahku saya minta hasil diagnose untuk mempertanggungjawabkan hasil diagnosa yang salah itu kepada dokter jadul itu.

            Beberapa hari kemudia adik saya pulang, dengan wajah tersenyum. Masalahnya tidak sampai disitu setelah kasus ini ayah saya harus mencari uang 15 juta untuk biaya catar boat kemarin dan ayah saya harus mengadaikan kebunnya untk membayarnya itu. Dan akhir saya harus tertunda 1 minggu untuk berangkat kuliah. Dan tidak lama kemudian paman saya yang dari Jogja menelpon gimana jadi kejoga? ” bertanya kesaya”. Terus saya menjawab ya udah om saya coba dulu ke Jogja kalau tidak cocok saya ke Makassar aja. Dan akhirnyapun saya berangkat ke Jogaj denga tidak terlalu banyak bawaan uang saku. Karna sebelumnaya ada masalah degan adik saya.

Banyak Belajar dari Kota Pendidikan

Hari pertama saya di Jogja, saya diajak dengan paman saya untuk berkeliling kota Jogja, tapi sedikit menantang karna sebelumsaya belum pernah membawak motor di kota Besar sebelumnya. Terus kata paman saya” kamu harus bisa, karna kamu kemana-mana harus sendiri. Kata saya menjawab” ya Om”. Pertama kali bawak motor adalah  Yang membuat ketakutan saya berhenti ditengah-tengah Tugu Jogja karna saya tidak melihat lampu merah lagi langsung bablas. Melihat itu paman saya langsung berhenti melihat saya berhenti di Tugu Jogja. Dan paman saya berkata “untung aja tidak ada polisi yang bertugas. Akhirnya saya selamat. Itu hari partama kali saya di Jogja. Hari-hari esok saya udah keliling Jogja sendiri tanpa harus ditemani dengan om.

Continue…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s